GARA-GARA MOTOR JADUL SUAMIKU (1)
[Suamiku dihina misk1n dan penganggur4n karena pulang kampung dengan motor jadul, padahal punya showroom mobil di kota]
"Mas, sudah dua hari ibu dirawat di rumah sakit. Mbak Sinta memintaku pulang. Dia minta aku gantian menjaga ibu karena cuma aku yang belum pernah merawat ibu. Bukan karena capek, tapi mereka memang sibuk bekerja, Mas. Aku juga sudah berulang kali bilang sama ibu supaya ikut kita aja di sini, tapi ibu selalu menolak. Ibu nggak mau pindah kota. Hidup dan mati ingin tetap berada di kampung halamannya."
Dua kali sudah kuutarakan niat untuk merawat ibu di kampung, apalagi ibu sudah tua. Usianya lebih dari 65 tahun. Selama itu pula aku belum pernah merawatnya, hanya tiap bulan mengirimi ua#ng untuknya saja.
Ua#ng itu kutitipkan pada Mbak Sinta atau Mila, karena memang mereka yang gantian merawat ibu selama ini. Sementara Mas Angga-- kakak keduaku pun sama sepertiku yang hanya mengirimkan ua#ng saja. Istrinya dan ibu kurang akur, makanya Mas Angga tak ada niat untuk mengajak ibu tinggal bersamanya. Daripada makin sakit dan hipertensi, katanya.
"Cuma ibu orang tua kita satu-satunya, Mas. Selama ini aku juga sudah merawat mama dan papa hingga mereka tutup usia, kan? Sekarang waktunya aku merawat ibu kandungku sendiri," ucapku lagi.
Air mata kembali menetes ke pipi, mengingat semua pengorbanan ibu dahulu. Dia yang single parent itu harus mengurus empat anaknya sendirian. Hanya Mas Angga yang kuliah, itu pun dari beasiswa, sementara tiga anak ibu lainnya tamat SMA.
Kulihat Mas Huda masih berpikir. Selama dua hari ini pun aku yakin dia masih memikirkan permintaanku itu.
"Bagaimana dengan sekolah anak-anak?" tanyanya kemudian.
"Kalau mas setuju, aku bisa mengurus pindahannya, Mas. Kasihan juga Mbak Sinta sama Mila kalau terus izin nggak masuk kerja, takutnya mereka dipec4t atasan. Sementara aku di sini memang nggak ada kerjaan, kan?"
Mas Huda menoleh, menatapku lekat lalu menganggukkan kepala. Bola mataku berbinar seketika.
"Jadi mas setuju aku pulang kampung bersama anak-anak untuk merawat ibu?" tanyaku memastikan. Lagi-lagi ibu menghela napas lalu mengangguk pelan.
"Iya. Besok kamu pulang duluan naik pesawat atau kereta, soal sekolah Gala sama Gina nanti mas yang urus. Pokoknya kamu fokus rawat ibu saja. Kesuksesan kita saat ini juga tak lepas dari doa orang tua," ucap Mas Huda lagi.
Spontan kupeluk dia erat. Air mataku tak jua berhenti menetes. Setelah dua harian dirundung kepedihan dan kegelisahan, akhirnya Mas Huda mengabulkan permintaanku.
"Mas juga sudah menyusun rencana cukup cantik setelah urusan sekolah anak-anak selesai. Kita akan sama-sama merawat ibu, ya? Dulu kamu juga begitu ikhlas merawat papa dan mama saat mereka sakit. Sekarang gantian, Mas juga ingin merawat ibu," ucapnya meyakinkan. Lagi-lagi aku tak berhenti bersyukur karena memiliki suami sepertinya.
Dia yang setia, penyayang keluarga dan tak pernah patah semangat dalam mencari rezeki halalNya. Pantas almarhum papa dan mama begitu membanggakannya. Bahkan dulu sempat tak merestui hubunganku dengannya karena perbedaan strata.
Meski Mas Huda terlahir dari keluarga berada, tapi dia selalu berpenampilan sederhana. Tak pernah neko-neko. Dia memang seorang introvert, lebih menyukai keheningan dibandingkan keramaian sama sepertiku. Mungkin karena itu pula, dia tak banyak memiliki teman pun tak banyak teman yang tahu kalau dia orang berada.
Pergi ke mana-mana sering pakai vesp4 jadul, kecuali jika bersamaku dan anak-anak dia akan memakai mobilnya. Dia selalu mengutamakan kebutuhan istri dan anak-anaknya dibandingkan kebutuhannya sendiri.
Dia pun tak tega jika melihat keluarga kecilnya kesusahan, karena itulah selalu melakukan berbagai cara untuk membuat kami bahagia.
Berulang kali gagal usaha tak pernah membuatnya menyerah, hingga akhirnya kini benar-benar memiliki sh0wroom m0bil sendiri. Sedangkan w4risan dari orang tuanya tinggal k0ntrakan dan rum4h berl4ntai dua yang kami tinggali.
Esoknya. Aku pun pamit sama Gala dan Gina untuk berangkat lebih dulu. Mereka sudah tahu rencana kedua orang tuanya untuk pulang kampung.
Awalnya mereka menolak tapi akhirnya setuju saja, setelah aku jelaskan bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan anak-anaknya. Bagaimana pula perintah Allah dan RasulNya pada seorang ibu.
Gala yang kini duduk di bangku kelas lima sementara Gina duduk di bangku kelas tiga itu pun mengangguk pelan saat aku berpamitan. Mereka mencium punggung tanganku lalu memberikan sesuatu. Entah apa isinya, tapi mereka bilang kado untuk nenek.
MasyaAllah, aku bahagia sekali memiliki anak yang berjiwa besar dan patuh pada orang tua seperti mereka.
Aku dijemput Mbak Sinta di bandara Ahmad Yani. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku sampai di rum4h ibu. Rum4h peninggalan bapak yang tak berpenghuni itu. Tiap minggu, Mbak Sinta meminta asistennya untuk membersihkan rumah.
Jadi meski tak terpakai, tetap terawat dan bersih. Karena ibu memang tinggal bersama Mbak Sinta atau Mila di rum4h mereka, gantian tiap bulan.
Baru menginjakkan kaki di lantai teras, dua tetanggaku sudah muncul di halaman. Kupikir sekadar menanyakan kabar atau apa, ternyata hanya datang untuk menghina.
"Gitu dong, Rum. Gantian kamu yang merawat ibumu. Kasihan kakak sama adikmu kerepotan sendiri, lagipula merantau di ibukota puluhan tahun kok nggak punya apa-apa. Mending di kampung halaman seperti Sinta itu, kerja di pabrik juga sekarang sudah punya rum4h sama m0bil." Aku hanya melirik Mbak Sinta yang baru saja membuka pintu rum4h ibu.
"Bener deh, Rum. Buat apa jauh-jauh merantau, kalau pulang nggak bawa apa-apa. Waktu itu Si Mesya juga lihat kamu lagi bersih-bersih k0ntrakan. Jadi bener ya gosip yang beredar kalau selama ini kalau kamu memang kekurangan ua#ng, makanya jarang pulang?" Aku kembali menghela napas, mencoba meredam kekesalan yang mulai menjalar dalam da#da. Seribet itukah mereka dengan hidupku?
"Kamu hidup pas-pasan karena di kota cuma jadi pemb4ntu rumah tangga atau kerja serabutan kan, Rum? Apa jangan-jangan malah hidup geland4ng4n di sana?"
Lagi-lagi aku hanya mengelus da#da. Mereka tak tahu kalau k0ntrakan yang kubersihkan itu k0ntrakan milik Mas Huda yang baru saja kosong. Kebetulan ada orang yang tanya soal k0ntrakan, makanya aku buru-buru bersihkan.
Lagipula buatku tak masalah membersihkan k0ntrakan milik sendiri karena saat itu beberapa asisten masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tak banyak yang tahu jika k0ntrakan lima belas pintu w4risan dari mertua itu adalah milikku dan Mas Huda.
Aku jarang pulang bukan karena tak punya ua#ng, tapi karena memang sibuk, anak-anak nggak pernah mau ditinggal. Namun, setidaknya empat bulan sekali aku juga pulang demi menjenguk ibu.
Kalaupun nggak bisa pulang, aku juga selalu mengirim uang tiap bulan untuk memenuhi semua kebutuhan ibu dan sedikit ua#ng saku untuk keponakan. Bukan lepas tangan begitu saja. Kenapa mereka bisa berpikir sepicik itu padaku?
"Kalaupun nggak pulang, seharusnya bantu keua#ngan kakakmu. Boro-boro bantu, yang ada malah ngerepotin."
Kudengar salah satu tetangga berbisik. Apa maksud ucapannya, bukankah selama ini aku selalu mengirimkan ua#ng untuk ibu tiap bulan?

0 Komentar