BALASAN UNTUK MANTAN SUAMIKU DAN SELINGKUHANNYA (7)

 BALASAN UNTUK MANTAN SUAMIKU DAN SELINGKUHANNYA (7)

Setelah berusaha untuk menenangkan diri. Akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi Mas Haris di hotel. Tapi sebelumnya aku menelepon Ayu terlebih dahulu.

[Yu, apa Mas Haris masih di hotel?] tanyaku langsung dengan suara serak, aku bahkan lupa mengucapkan salam.


[Iya,Mir. Suamimu masih berada di hotel dengan wanita itu,] jawab Ayu.


[Yu, aku sedang menuju kesana. Tolong kabari aku kalau Mas Haris check out selagi aku masih di perjalanan,] ucapku lagi.


[Oke, Mir. Tapi kamu ke sini naik apa dan dengan siapa? Kamu jangan bawa mobil atau motor sendiri ya. Keadaan kamu lagi kayak gini, bahaya kalau bawa kendaraan sendiri karena kamu pasti nggak fokus,] jawab Ayu perhatian, mungkin dia merasa kasihan padaku.


[Iya ,Yu, aku kesana dengan saudaraku, kamu jangan khawatir. Terima kasih ya, Yu. Jangan lupa share location,] jawabku lalu menutup telepon.


"Akhirnya kebohonganmu akan segera terbongkar, Mas," ucapku geram sambil mengepalkan tangan.


Aku bangun lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya aku merapikan kembali riasanku lalu berjalan keluar dari dalam kamar.


Saat baru keluar dari kamar, aku melihat Mita dan Bagus. Segera aku melambaikan tangan memanggil kedua adikku itu. Mereka bergegas menghampiriku di depan kamar.


"Mita, Bagus, Mba mau ke Jakarta. Mba mau menghampiri dan menangkap basah Mas Haris dan selingkuhannya di hotel. Kalian berdua ikut Mba ya," pintaku pada kedua adikku.


"Iya, Mba, ayo. Tapi bagaimana dengan Ibu dan Clarissa?" Apa alasan kita pergi bertiga? Clarissa pasti mau ikut," tanya Mita terlihat bingung.


"Entahlah, Mba juga bingung harus cari alasan apa. Nanti Mba coba bilang ada urusan penting, semoga Ibu dan Clarissa nggak banyak tanya. Ibu jangan di beritahu dulu ya, Mit. Kasihan Ibu, Mba nggak mau Ibu jadi kepikiran. Lagian masih ada Bu Wulan, kan?" tanyaku pada Mita.


"Iya, Mba. Bu Wulan masih ngobrol sama Ibu dan Clarissa," jawab Mita sambil menoleh kearah ruang keluarga.


"Ya sudah, ayo kita berangkat," jawabku lalu berjalan ke ruang keluarga, di ikuti oleh Mita dan Bagus.


Akhirnya kami bertiga berangkat menuju Jakarta menggunakan mobil Mita dan Bagus. Untungnya tadi waktu pamit, Ibu tidak banyak tanya, Clarissa juga tidak merengek minta ikut. Dia masih sibuk membuka kado ulang tahun dari teman-temannya.


Bagus menyetir mobil, sedangkan aku dan Mita duduk di kursi belakang. Mita berusaha menenangkan aku, dia terus mengusap-usap punggungku.


Harusnya aku tidak terlalu terkejut dengan semua ini, bukankah sebelumnya Mas Haris memang sudah terlihat mencurigakan. Aku bahkan masih ingat Mas Haris mengucapkan kata 'sayang' pada seseorang di telepon saat terakhir dia pulang ke Bekasi.


Hari ini Mas Haris bahkan tidak pulang untuk menghadiri acara ulang tahun putrinya. Padahal aku sudah mengingatkannya dari jauh-jauh hari, supaya dia bisa meluangkan waktu dan mengatur jadwal. Tapi ternyata ....


Dan sekarang dia malah sedang bersama selingkuhannya di hotel, sungguh menjijikkan. Ternyata ini alasan Mas Haris tidak mengangkat telepon dan membalas pesanku.


Akhirnya setelah kurang lebih satu jam perjalanan, kami sampai di tempat tujuan. Untungnya tadi Ayu sudah mengirimkan lokasinya, sehingga kami dengan mudah mencari alamat hotel tempat Ayu bekerja.


Setelah Bagus memarkirkan mobilnya, kami bertiga turun dan bergegas masuk menuju meja resepsionis.


Aku tersenyum kecut, melihat hotel tempat Mas Haris membawa selingkuhannya. Ini bukan hotel biasa, tapi hotel bintang lima. Mas Haris rela merogoh kocek dalam-dalam demi bisa berz*nah dengan selingkuhannya di hotel semewah ini. Sedangkan untuk membelikan putrinya hadiah, dia seperti sangat sayang pada uangnya. Sekali lagi hatiku merasa terluka.


Saat sampai di depan meja resepsionis, tampak Ayu bersama teman kerjanya. Aku langsung menghampirinya.


"Yu ...." Panggilanku membuat Ayu dan temannya langsung berdiri menyambutku.


"Mir, kamu udah sampai," ucap Ayu kemudian menoleh pada temannya.


"Rika, ini temanku, namanya Miranti. Dia kesini karena tadi aku melihat suaminya memesan kamar di hotel ini bersama seorang wanita. Dia ingin menangkap basah suaminya," ucap Ayu menerangkan maksud kedatanganku.


"Lalu ....?" tanya Rika masih belum paham kearah mana pembicaraan ini.


"Tolong beritahu di kamar nomor berapa suami saya. Saya juga minta izin pinjam kunci cadangan." Aku yang tak sabaran, akhirnya ikut menjelaskan.


"Ayu, kamu apa-apaan! Kita tidak boleh memberitahu nomer kamar tamu hotel kita, apa lagi meminjamkan kunci cadangan," bisik Rika pada Ayu, tapi aku masih bisa mendengar ucapannya.


"Iya, aku tahu, Rik. Tapi aku kasihan temanku. Aku mohon, bantu dia ... sekali ini saja," ucap Ayu memohon pada temannya.


"Mba, saya mohon ... tolong bantu saya. Saya berjanji tidak akan membuat keributan, saya juga berjanji tidak akan membuat nama hotel ini tercemar," ucapku ikut memohon sambil menangkupkan tangan di depan dada.


"Maaf, Bu. Saya tetap tidak bisa, selain nama baik hotel ini, pekerjaan saya juga di pertaruhankan. Kalau Ibu mau, mungkin Ibu bisa minta izin terlebih dahulu pada Pak Direktur," jawab Rika.


"Maaf, ada apa ini?" Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang. Aku langsung menoleh, dan ....


"Pak Rayhan?" Mataku membulat melihat laki-laki yang berdiri tak jauh dari kami.


"Bu Miranti! Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya laki-laki yang ternyata anak Bu Wulan.


"Pak Rayhan, Bapak kok ada disini?" Aku yang masih terkejut, malah balik bertanya.


"Iya, Bu, saya tadi habis bertemu teman. Bu Miranti sendiri ada perlu apa di sini? Apa hendak memesan kamar hotel?" tanya pak Rayhan lagi. Aku terdiam, bingung harus menjawab apa.


"Maaf, Pak Rayhan, Miranti ini teman saya. Dia kesini karena hendak menangkap basah suaminya yang tadi memesan kamar hotel dengan seorang wanita." Ayu menjelaskan, sementara aku masih terdiam. Mita dan Bagus yang berada di belakangku, juga hanya diam.


"Pak Rayhan, apakah saya boleh memberitahu nomer kamar suami teman saya? Saya juga minta izin meminjamkan kunci cadangan," ucap Ayu pelan, kemudian dia menundukkan kepalanya.


Aku merasa bingung, kenapa Ayu malah meminta izin pada Pak Rayhan. Ayu dan Rika menundukkan kepalanya, seperti merasa takut. Siapa sebenarnya pak Rayhan?


Mendengar penjelasan Ayu, Pak Rayhan tampak berpikir sesaat. Kemudian ....


"Saya izinkan. Berikan kuncinya, dan berapa nomer kamarnya," ucap pak Rayhan tegas. Rika segera memeriksa nomor kamar di komputer, sedangkan Ayu mencari kunci cadangan kemudian langsung memberikannya padaku.

"Ini, Mir, semoga berhasil. Aku mendukungmu," ucap Ayu sambil menyerahkan kunci berbentuk kartu padaku.

"Iya, Yu, Rika, terimakasih banyak ya," ucapku kemudian berjalan menuju lift setelah Rika memberitahu nomer kamar Mas Haris. Aku bahkan lupa mengucapkan terimakasih pada Pak Rayhan.

Saat sampai di depan lift, ternyata Pak Rayhan ikut. Dia berjalan bersama Bagus dan Mita.

"Maaf, Bu Miranti. Saya izin ikut, untuk memastikan tidak terjadi keributan yang akan menggangu kenyamanan pengunjung lain," ucapnya saat kami sudah berada di dalam lift.

"Iya, Pak. Nggak apa-apa, Bapak kerja di hotel ini?" tanyaku akhirnya karena penasaran.

"Iya, Bu," jawab pak Rayhan, kemudian menekan tombol untuk membuka pintu lift karena kami sudah sampai di lantai yang di tuju.

Saat semakin mendekati kamar yang di sewa Mas Haris, tubuhku semakin gemetar, jantungku juga semakin berdetak kencang. Inilah saat yang paling mendebarkan, aku harus bersiap apapun yang akan terjadi nanti.

"Tuhan ... kuatkan aku," ucapku sebelum menekan cardlock pada kotak sensor di pintu kamar.

0 Komentar