ARA-GARA KEBELET BOKER, SAMPAI TELAT DI HARI PERTAMA PENDIDIKAN!
“Letkol Adam dan Mayor Satria, silakan masuk.”
Seorang pria berpangkat brigadir jenderal yang masih tampak gagah itu memanggil dua pamen intelijen yang biasa berdinas di luar negeri untuk pulang ke Indonesia mengemban misi penting.
Adam dan Satria dipersilakan duduk.
“Kalian berdua ada misi di Lembaga Pendidikan Intelijen Tempur (LPIT). Di sana sudah ada tiga orang yang lebih dulu terjun, satu tim dengan kalian.”
“Siap, Jenderal!” jawab Adam dan Satria bersamaan.
“Kalian menyamar di LPIT,” terang sang jenderal lagi.
“Siap!” jawab Adam dan Satria serempak.
Dua orang prajurit berpangkat praka masuk dan memberi perlengkapan Adam dan Satria selama di LPIT. Dokumen yang terkait juga dibekali pada keduanya.
“Mohon izin, saya menyamar sebagai apa di LPIT?” tanya Adam.
“Kamu jadi perwira siswa bernama Azzam Alghifani, berpangkat letnan satu senior,” sambung Brigadir Jenderal Jeremy.
Adam agak shock karena pangkat yang sebenarnya dan pangkat samarannya cukup jauh perbedaannya.
“Mohon izin, Jenderal, letnan satu (lettu) biasanya wajahnya masih fresh. Saya, hmm, sudah letnan kolonel apa masih pantas menyamar sebagai prajurit berpangkat lettu?” tanya heran Adam. Dia merasa tokoh yang harus diperankannya dalam penyamaran terlalu muda. Sedangkan dia sudah 39 tahun.
Sang jenderal tertawa. “Letkol Adam ... Letkol Adam. Wajahmu itu loh nggak tua-tua, saya heran kamu apa perawatan atau bagaimana. Wajahmu sangat baby face, masih cocoklah menyamar jadi perwira muda berpangkat letnan satu.”
“Siap,” balas Adam walau agak sangsi juga. Dia tak paham perkembangan pemuda zaman sekarang. Khawatir agak kesulitan membaur. Meskipun dia adalah seorang spionase yang andal di intelijen.
“Kalau saya menyamar jadi apa, mohon izin, Jenderal?” tanya Satria tak sabaran. Pria berbadan gempal itu excited diberi tugas di Indonesia. Sudah bosan bertugas di luar negeri.
”Mayor Satria nggak usah menyamar, pakai identitas asli saja,” ucap Brigadir Jenderal Jeremy.
“Maksudnya, mohon izin?” Satria bingung.
**
Tiga jam kemudian ....
“Ini nggak adil!” teriak Satria mencak-mencak di mobil yang mengantarnya ke LPIT. Adam tertawa sampai sakit perut melihat Satria yang ngambek tak berhenti.
“Masa Bang Adam yang jelas-jelas lebih tua dariku, pangkatmu juga lebih tinggi, eh, malah nyamar jadi perwira muda. Kok aku yang lebih imut-imut, chuby, malah disuruh nyamar jadi dosen!” omel Satria. Semangat menjalankan misi jadi menurun. “Asam lambungku bisa kumat ini!”
Adam masih terbahak-bahak seraya menyematkan papan nama di seragam barunya yang berpangkat dua garis kuning di pundak.
Satria melihat seragam baru sahabat sekaligus abang letingnya. Pangkat dua garis kuning di pundak terlihat cukup tidak biasa karena ia terbiasa melihat pangkat di pundak Adam adalah dua melati.
Sopir yang mengantar keduanya ikut nimbrung. “Mohon izin, sudah berapa lama tidak pulang ke Indonesia?”
“Aku sih enam tahun,” balas santai Satria. Terbiasa hidup di luar negeri, kebiasaan militernya agak berkurang. “Bang Adam dua tahun lalu pulang kan?”
“Iya, aku sering pulang. Tahu sendiri bisnis keluarga aku juga yang urusin kan. Mau nggak mau aku sering ke Jakarta.”
“Siap,” balas sopir. “O ya, mohon izin, sepuluh menit lagi kita sampai LPIT, silakan dipakai seragamnya.”
“Oh iya, Pak Joy. Duh, unik nih misi kali ini, nyamar jadi anak sekolahan!” ungkap Adam seraya melepas seragam lamanya ke seragam baru yang berpangkat letnan satu. Dari segi wajah dan postur tubuh, Adam memang masih sangat cocok sebagai perwira muda, walaupun pangkatnya sebenarnya sudah tinggi.
“Apalagi kita jarang pulang di Indonesia, ya, Bang. Nggak tahu watak anak zaman sekarang gimana,” ucap Satria yang memakai pula seragam PDH barunya yang sudah diberi lambang LPIT di lengan.
“Hati-hati, Komandan.”
Adam menoleh. “Hati-hati kenapa, Pak Joy?”
“Zaman sekarang tuh orangnya nekat-nekat, apalagi yang cewek, agresif-agresif. Duh bikin pusing!” ungkap Pak Joy.
Tampang Adam kecut. Dia paling anti cewek agresif plus cewek matre. Tidak sedikit wanita yang mengejar Adam, apalagi selain berpangkat tinggi, dia pun berasal dari keluarga berada. Penerus usaha keluarga yang memiliki banyak showroom mobil di mana-mana. Di Jakarta ada 11 showroom, belum lagi di tiap daerah lain. Adam menjadi incaran para wanita. Namun, belum ada yang sesuai di hatinya padahal secara usia sudah sangat matang.
“Bang Adam paling nggak suka tuh cewek agresif, bisa tiba-tiba sesak napas, dia” sahut Satria.
“Mudah-mudahan nggak ketemu yang aneh-aneh di sini,” balas Adam.
“Bang, bukannya kamu dapat tugas dari bundamu?” lanjut Satria sambil menyusun kembali barang-barangnya.
“Iya. Bundaku itu kurang kerjaan. Katanya aku dijodohkan sama cewek namanya Hawa. Yang mana orangnya, aku juga belum pernah bertemu. Parahnya lagi, kata Bunda, cewek itu ikut pendidikan LPIT angkatan ini!” cerita Adam sambil membereskan barang-barangnya pula.
“Wah, ketemu di sini dong!”
“Pasti ketemu, Bunda nyuruh aku nyari dia di sini, Sat. Suruh ngajak kenalan cewek yang namanya Hawa itu,” lanjut Adam.
“Kalau dari namanya sih, kelihatannya Hawa itu orangnya kalem, lemah lembut ya, Bang.”
Adam menghela panjang. “Semoga saja.”
**
Di tempat berbeda, tiga jam sebelumnya ....
Suara klakson melengking dari motor sport yang ditumpangi seorang gadis tinggi berseragam dinas berpangkat letnan dua yang berhenti di depan rumah seorang sahabatnya.
“Lama amat Silvana nggak keluar-keluar!” omel Hawa yang akhirnya turun dari motor dengan menggendong tas ransel. Dia berjalan cepat sampai ke pintu. Memencet bel rumah.
Beberapa menit, tak ada respons dari penghuni rumah. Dia pun melirik arloji.
“Bisa telat nih upacara pembukaan!”
Hawa menggedor pintu amat keras, tak juga ada yang keluar.
“Duh, Silvana, bisa telat kita!”
Gadis cantik bermata indah itu tak kehabisan akal. Dia berteriak, “KEBAKARAN ...! KEBAKARAN ...!”
Para tetangga dan warga sekitar pun datang berbondong-bondong.
“Di mana kebakarannya, Mbak?” tanya cemas warga.
Hawa melongo melihat warga yang datang hampir dua RT. Dia meneguk ludah seraya mengayunkan telunjuk ke arah rumah Letnan Dua Silvana.
“Ada orang di dalam?”
“Ada, Pak,” jawab datar Hawa.
Warga pun antusias mendobrak pintu, memecahkan kaca jendela, dan merusak genteng.
Silvana yang sebenarnya sedang boker di toilet lari tergopoh-gopoh sambil membetulkan seragamnya. Terperanjat histeris lihat depan rumahnya sudah mirip kapal pecah.
“Ini pasti kerjaan kamu kan, Hawa!” teriak Silvana, melengking di telinga sang sahabat.
Hawa nyengir sambil dada-dada. “Sorry.”
“Dasar Hawa, tukang rusuh!”
Akhirnya Hawa dan Silvana minta maaf ke warga dan menyuruh mereka pulang.
Silvana memegangi kepalanya melihat rumahnya yang porak poranda.
“Aku bisa dibunuh orang tuaku!” lirih Silvana. Pasrah.
**
Tiga jam kemudian ....
“Mati kita, upacaranya sudah mulai!” pekik Hawa yang langsung lari membawa tas ransel setelah memarkirkan motor sport-nya.
“Lari!”
Hawa dan Silvana lari tergopoh-gopoh menuju barusan. Walau masih diperbolehkan mengikuti upacara, tetapi setelahnya, Hawa dan Silvana dipanggil Komandan Resimen Siswa.
“Eh, kalian berdua kenapa telat?” bentaknya.
“Siap! Kami ...,” Hawa mengatur napas sejenak, “Kebelet boker di jalan, Komandan!”
Silava shock mendengar alasan Hawa. Para perwira siswa yang baru bubar barisan juga menertawainya. Adam yang masih berada di barisan juga menoleh.
Pura-pura nggak kenal Hawa, ah! oceh Silvana dalam hati.
Komandan Korps Siswa (Dankorsis) memperhatikan nama dada di seragam Hawa.
“Letnan Dua Filan, Letnan Dua Silvana,” sebut Dankorsis.
“Siap ...!” lantang Hawa dan Silvana. Hawa memang tak memakai nama depannya, hanya nama tengah. Semua rekan memanggilnya Filan, hanya Silvana yang memanggilnya Hawa, itu pun jika mereka hanya berdua saja.
“Setelah ini, kalian lari keliling lapangan sepuluh kali putaran!” bentak Dankorsis.
Hawa dan Silavana lemas. Baru sampai sudah dihukum.
Adam melengos dengan menggelengkan kepala.
Nggak banget deh cewek kayak gitu, urakan! gumam Adam.

0 Komentar