AKRAAM KUTUKAN ABADI SANG PANGLIMA PERANG (BAB 2)
Panglima yang terkenal jika dia sudah memegang pedang dan maju dalam perang, hanya ada dua pilihan. Menang atau mati.
"Panglima Akraam?"
Pekik beberapa Prajurit melihat Pria bertubuh tinggi besar itu.
"Kenapa Dia menyerang kita?"
Tanya ketakutan Para prajurit yang tak menyangka di serang Oleh Pangalima Akraam. Itu berarti Raja yang memerintahkan.
"Gubernur Gulfam sedang dalam masalah besar."
Salah Satu dari Prajurit berlari menuju Ruang dalam Istana dan menuju ruang tengah.
"Dimana Gubernur? Dimana Gubernur?"
"Ada apa?"
"Ada apa?"
"Apa yang terjadi? Kenapa Kau terlihat panik?"
"Mana Gubernur? Kita Di serang Kerajaan Parsi. Pasukan Panglima Akraam sudah mengepung di depan!"
"APA????"
Kepanikan pun terjadi di tengah istana Gubernur kala prajurit itu dihampiri oleh puluhan pelayan yang terkejut mendengarnya mencari keberadaan Gubernur dengan penuh kekhawatiran dan kecemasan.
"Istana Ini di Serang! Kita di serang!"
"CEPAT BERITAHU GUBERNUR!!!"
Sampai beberapa orang pelayan kemudian menuju kamar gubernur yang sedang beristirahat. Lalu meminta Izin pada penjaga.
"Cepat, Buka Pintunya, Kita Di serang!"
Si Penjaga kemudian mengetuk pintu setinggi Dua meter itu. lalu tak lama, Suara Kunci di geser dan Pintupun terbuka. Gubernur Gulfam yang baru akan naik ke peraduaannya terlihat marah mendengar pintu kamarnya di gedor.
"ADA APA RIBUT RIBUT?"
Pelayan itu ketakutan lalu menunduk.
"Maafkan Saya Tuan Gubernur. Saya mendengar dari prajurit kalau istana kita ada yang menyerang."
Gulfam luar biasa terkejut. Pria paruh baya bertubuh tinggi berperut buncit itu pucat pasi. "A..apa? Di...di serang?"
''Iya Tuan. Panglima Akraam sendiri yang memimpin.''
Gulfam hampir saja jatuh dari tempatnya berdiri andai tak di pegangi Istrinya. Mendengar nama Akraam, sudah seperti Vonis mati baginya. Karena tiada peperangan tanpa kemenangan bagi Akraam.
"Tuan, Anda berjaga jagalah."
Rupanya, Keributan itu membuat Sang Istri ikut keluar menemui Suaminya di pintu. "Ada apa ini?" Tanya Istri Gubernur. Bertepatan dengan Itu, beberapa prajurit pun datang melindungi Mereka.
"Kami harap Tuan Gubernur bisa segera pergi dari sini untuk menyelamatkan diri."
Gulfam dan Istrinya panik. Kenapa Mereka di serang malam malam begini?
"Suamiku, Ada apa ini? Harus bagaimana ini? Kita di serang? Ada apa?"
"DIAAMMM!" Bentak Gulfam pada Istrinya. "Keluarkan kami dari sini. Cepat!"
"Baik, Tuan Gubernur!"
Sepuluh orang prajurit itu kemudian mengamankan Gubernur beserta dengan istrinya juga pelayan tadi agar ikut bersama melewati lorong bawah tanah untuk keluar dari istana. sementara di luar terdengar seruan para prajurit yang sedang bertarung.
Jalan menuju lorong bawah tanah Pun di lalui Gulfam, Istrinya, pelayan juga para prajurit. Bersembunyi dari serangan Panglima Akraam yang membuat Mereka terkejut. Entah apa yang terjadi. Kenapa Mereka di serang oleh utusan kerajaan? Mereka pun terus berjalan menuju Kediaman Putri Mereka, Nazma.
"Cepatlah!!!" Ujar Gulfam dengan hati yang ketar ketir ketakutan. Setelah kurang lebih Tiga puluh menit melewati lorong bawah tanah itu, Akhirnya Mereka bisa sampai di belakang Kediaman Nazwa yang tak kalah mewah dan di lindungi Puluhan Prajurit juga.
Namun, Malang memang tak Berbau.
Kediaman Najma sudah di kuasai oleh Prajurit Panglima Akraam. Bahkan Gadis cantik itu, Kini tengah di tawan dengan dua tangannya yang di ikat dan di tawan oleh prajurit.
"Nazmaaa....." Jerit Sang Bunda melihat Putrinya menjadi tawanan sambil menangis. terlihat kalau Nazma sangat ketakutan.
Gulfam sangat Geram. Ia lalu maju ke depan menghadap kelompok prajurit itu dengan wajah Penuh amarah. Walau bagaimanapun Dia adalah seorang Gubernur kepala pemerintahan bagian provinsi yang ditunjuk sendiri oleh Raja. Dia merasa tak pantas di perlakukan seperti ini.
"Lepaskan Putriku!! Apa salah kami terhadap Raja? Kenapa kami diperlakukan seperti pemberontak? Padahal kami tidak melakukan Makar? Kami setia pada raja kami mengabadikan hidup kami pada Raja! tapi Inikah balasannya??
Suara derap langkah kaki Kuda menjawab Pertanyaan menantang dari Gubernur Gulfam. Seluruh mata Kini tertuju padanya. Sosok Panglima Akraam duduk dengan Gagah di atas Kuda berwarna hitam yang sama gagah dengan pemiliknya.
Nazma menatap nanar sosok itu. Netranya berkaca dan airmata lolos begitu saja di pipi mulusnya.
Sorot tajam Akraam seolah menundukkan pandangan Gulfam.
Namun, Ia tak gentar. Ia coba mengangkat wajahnya menatap nyalang Panglima Akraam. Dengan intonasi tegas, Ia membentak Akraam.
"Apa yang terjadi Panglima Akraam? Kenapa Kau menyerang kami? Apa salah kami pada Raja?"
Sosok yang memakai Pakaian perang Itu terdiam selama beberapa detik sebelum kemudian membuka suaranya.
"Kau dinyatakan bersalah, Gulfam!"
Suara bariton bernada rendah namun terdengar berat dan menyeramkan, seakan memecah kesunyian malam ini.
"Dekrit Raja di turunkan. Kekuasaan mu di cabut. Di berhentikan Secara tidak hormat. Jabatan Gubernur mu di gantikan oleh Wakilmu dan Putrimu .... menjadi Milik Raja!"
------
Keputusan Raja
Panglima yang terkenal Jika Dia sudah memegang ped...

0 Komentar